Negara Brunei Darussalam
Nama Resmi : Negara Brunei
Darussalam
Ibukota : Bandar Seri
Begawan
Luas Wilayah : 5.765km2
Jumlah Penduduk : 357,800jiwa (
2004 )
Bentuk Negara : Kesultanan
Konstitusional
Kepala Negara Dan
Kepala Pemerintah
: Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah
Mu’izzaddin Wadaulah, Sultan dan Yang Dipertuan Negara Brunei Darussalam
Agama : Islam (
mayoritas ) Kristen, Budha, Animisme
Bahasa : Bahasa Melayu dan
Inggris
Mata Uang : Dollar Brunei (
B$ )
Ekonomi : Industri utama :
perminyakan , pengilangan minyak, gas alam cair, konstruksi . Ekspor Utama :
minyak mentah, gas alam, refined products.
Brunei Darussalam adalah sebuah
negara kecil yang terletak di Asia Tenggara. Letaknya di bagian utara Pulau
Borneo/Kalimantan dan berbatasan dengan Malaysia. Brunei terdiri dari dua
bagian yang dipisahkan di daratan oleh Malaysia. Negara ini terkenal dengan
kemakmurannya dan ketegasan dalam melaksanakan syariat Islam, baik dalam bidang
pemerintahan maupun kehidupan bermasyarakat.
Nama
Borneo diberikan oleh orang-orang Inggris berdasarkan nama wilayah ini karena
pada masa lalu orang Eropa berdagang melalui bandar di Brunei sebagai bandar
perniagaan terbesar di pulau ini.
Asal usul Negara Brunei Darussalam
Silsilah kerajaan Brunei didapatkan pada Batu
Tarsilah yang menuliskan Silsilah Raja-Raja Brunei yang dimulai
dari Awang Alak Betatar, raja yang mula-mula memeluk agama Islam (1368) sampai
kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19, memerintah antara 1795-1804
dan 1804-1807).
Brunei adalah sebuah negara tua di antara
kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Keberadaan Brunei Tua ini diperoleh
berdasarkan kepada catatan Arab, Cina dan tradisi lisan. Dalam catatan Sejarah
Cina dikenal dengan nama Po-li, Po-lo, Poni atau Puni dan
Bunlai.
Dalam catatan Arab dikenali dengan Dzabaj atau Randj.
Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair
Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan baru nah
yaitu setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai
pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah
mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu
diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya
ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka mereka pun mengucapkan
perkataan baru nah yang berarti tempat itu sangat baik, berkenan dan
sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan.
Kemudian perkataan baru nah itu lama kelamaan berubah
menjadi Brunei.
Replika stupa yang dapat ditemukan di Pusat Sejarah
Brunei menjelaskan bahwa agama Hindu-Buddha pada suatu masa dahulu pernah
dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi kebiasaan dari para musafir
agama tersebut, apabila mereka sampai di suatu tempat, mereka akan mendirikan
stupa sebagai tanda serta pemberitahuan mengenai kedatangan mereka untuk
mengembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan P’u Kung
Chih Mu, batu nisan Rokayah binti Sultan Abdul Majid ibni Hasan ibni
Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi Ba-Faqih (Mufaqih) pula
menggambarkan mengenai kedatangan agama Islam di Brunei yang dibawa oleh
musafir, pedagang dan mubaligh-mubaliqh Islam, sehingga agama Islam itu
berpengaruh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga kerajaan
Brunei.
Islam mulai berkembang dengan pesat di Kesultanan
Brunei sejak Syarif Ali diangkat menjadi Sultan Brunei ke-3 pada tahun 1425 M.
Sultan Syarif Ali adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan / pancir dari Cucu
Rasulullah Shalallahualaihi Wassallam yaitu Amirul Mukminin Hasan / Syaidina
Hasan sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / prasasti dari abad ke-18
M yang terdapat di Bandar Sri Begawan, Brunei. Keturunan Sultan Syarif Ali ini
kemudian juga berkembang menurunkan Sultan-Sultan disekitar wilayah Kesultanan
Brunei yaitu menurunkan Sultan-Sultan Sambas dan Sultan-Sultan Sulu.
Sejarah Negara Brunei Darussalam
Para
peneliti sejarah telah mempercayai terdapat sebuah kerajaan lain sebelum
berdirinya Kesultanan Brunei kini, yang disebut orang Tiongkok sebagai Po-ni.
Catatan orang Tiongkok dan orang Arab menunjukkan bahwa kerajaan perdagangan
kuno ini ada di muara Sungai Brunei awal abad ke-7 atau ke-8. Kerajaan itu
memiliki wilayah yang cukup luas meliputi Sabah, Brunei dan Sarawak yang
berpusat di Brunei. Kesultanan Brunei juga merupakan pusat perdagangan dengan
China. Kerajaan awal ini pernah ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di
Sumatra pada awal abad ke-9 Masehi dan seterusnya menguasai Borneo utara dan
gugusan kepulauan Filipina. Kerajaan ini juga pernah menjadi taklukan (vazal)
Kerajaan Majapahit yang berpusat di pulau Jawa. Nama Brunai tercantum dalam
Negarakertagama sebagai daerah bawahan Majapahit. Kekuasaan Majapahit tidaklah
lama karena setelah Hayam Wuruk wafat Brunai membebaskan diri dan kembali
sebagai sebuah negeri yang merdeka dan pusat perdagangan penting.
Pada
awal abad ke-15, Kerajaan Malaka di bawah pemerintahan Parameswara telah
menyebarkan pengaruhnya dan kemudian mengambil alih perdagangan Brunei.
Perubahan ini menyebabkan agama Islam tersebar di wilayah Brunei oleh
pedagangnya pada akhir abad ke-15. Kejatuhan Melaka ke tangan Portugis pada
tahun 1511, telah menyebabkan Sultan Brunei mengambil alih kepimpinan Islam
dari Melaka, sehingga Kesultanan Brunei mencapai zaman kegemilangannya dari
abad ke-15 hinga abad ke-17 sewaktu memperluas kekuasaannya ke seluruh pulau
Borneo dan ke Filipina di sebelah utaranya. Semasa pemerintahan Sultan Bolkiah
(1473-1521) yang terkenal disebabkan pengembaraan baginda di laut, malah pernah
seketika menaklukkan Manila. kesultanan Brunei memperluas pengaruhnya ke utara
hingga ke Luzon dan Sulu serta di sebelah selatan dan barat Kalimantan; dan
pada zaman pemerintahan sultan yang kesembilan, Hassan (1605-1619), yang
membangun susunan aturan adat istiadat kerajaan dan istana yang masih kekal
hingga hari ini.
Pada
tahun 1658 Sultan Brunei menghadiahkan kawasan timur laut Kalimantan kepada
Sultan Sulu di Filipina Selatan sebagai penghargaan terhadap Sultan Sulu dalam
menyelesaikan perang saudara di antara Sultan Abdul Mubin dengan Pengeran
Mohidin. Persengketaan dalam kerajaan Brunei merupakan satu faktor yang
menyebabkan kejatuhan kerajaan tersebut, yang bersumber dari pergolakan dalam
disebabkan perebutan kuasa antara ahli waris kerajaan, juga disebabkan
timbulnya pengaruh kuasa penjajah Eropa di rantau sebelah sini, yang menggugat
corak perdagangan tradisi, serta memusnahkan asas ekonomi Brunei dan kesultanan
Asia Tenggara yang lain.
Pada
Tahun 1839, James Brooke dari Inggris datang ke Serawak dan menjadi raja di
sana serta menyerang Brunei, sehingga Brunei kehilangan kekuasaannya atas
Serawak. Sebagai balasan, ia dilantik menjadi gubernur dan kemudian “Rajah”
Sarawak di Barat Laut Borneo sebelum meluaskan kawasan di bawah
pemerintahannya. Pada tanggal 19 Desember 1846, pulau Labuan dan sekitarnya
diserahkan kepada James Brooke. Sedikit demi sedikit wilayah Brunei jatuh ke
tangan Inggris melalui perusahaan-perusahaan dagang dan pemerintahnya sampai
wilayah Brunei kelak berdiri sendiri di bawah protektorat Inggris sampai
berdiri sendiri tahun 1984.
Pada
masa yang sama, Persekutuan Borneo Utara Britania sedang meluaskan
penguasaannya di Timur Laut Borneo. Pada tahun 1888, Brunei menjadi sebuah
negeri di bawah perlindungan kerajaan Britania dengan mengekalkan kedaulatan
dalam negerinya, tetapi dengan urusan luar negara tetap diawasi Britania. Pada
tahun 1906, Brunei menerima suatu lagi langkah perluasan kekuasaan Britania
saat kekuasaan eksekutif dipindahkan kepada seorang residen Britania, yang
menasihati baginda Sultan dalam semua perkara, kecuali yang bersangkut-paut
dengan adat istiadat setempat dan agama.
Pada
tahun 1959, Brunei mendeklarasikan kerajaan baru yang berkuasa memerintah
kecuali dalam isu hubungan luar negeri, keamanan dan pertahanan di mana isu-isu
ini menjadi tanggung jawab Britania. Percobaan untuk membentuk sebuah badan
perundangan pada tahun 1962 terpaksa dilupakan karena terjadi pemberontakan
oleh partai oposisi yaitu Partai Rakyat Brunei dan dengan bantuan Britania,
pemberontakan ini berhasil diberantas. Pada akhir 1950 dan awal 1960, kerajaan
Brunei ketika itu menolak rencana (walaupun pada awalnya menunjukkan minat)
untuk bergabung dengan Singapura, Sabah, Sarawak, dan Tanah Melayu untuk
membentuk Malaysia dan akhirnya Sultan Brunei ketika itu berkehendak untuk
membentuk sebuah negara yang merdeka.
Pada
1967, Omar Ali Saifuddin III telah turun dari takhta dan melantik putra
sulungnya Hassanal Bolkiah, menjadi Sultan Brunei ke-29. Baginda juga berkenan
menjadi Menteri Pertahanan setelah Brunei mencapai kemmerdekaan penuh dan
disandangkan gelar Paduka Seri Begawan Sultan. Pada tahun 1970, pusat
pemerintahan negeri Brunei Town, telah diubah namanya menjadi Bandar Seri
Begawan untuk mengenang jasa baginda. Baginda mangkat pada tahun 1986.
Pada
4 Januari 1979, Brunei dan Britania Raya telah menandatangani Perjanjian
Kerjasama dan Persahabatan.
Pada
1 Januari 1984, Brunei Darussalam telah berhasil mencapai kemerdekaan
sepenuhnya.
Saat
ini Brunei memiliki wilayah yang lebih kecil daripada masa lalu, dengan
berbatasan dengan Serawak dari sebelah barat sampai timur wilayah itu, serta
sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan.
Pemerintahan
Pada tahun 1888 James Brook menguasai sebagian
wilayah Kalimantan Utara yang kemudian menjadi daerah protektorat
Inggris. Brunei Darussalam yang hanya sering disebut Brunei memperoleh
kemerdekaannya ditetapkan tanggal 23 Januari 1984, dengan ibu kota Bandar Seri
Begawan (sebelum tahun 1970 bernama Brunei Town). Brunei merupakan negara
kesultanan dengan kekuasaan pemerintah tertinggi di tangan Sultan.
Letak, luas, dan batas wilayah
Brunei Darussalam merupakan negara kecil yang terletak di Pulau Kalimantan bagian utara. Secara astronomis terletak di antara garis lintang 4°02’LU – 5°03’LU dan garis bujur 114°05’BT – 115°22’BT. Luas wilayah negara Brunei Darussalam kira-kira 5.765 km², hampir sama luas dengan DI Yogyakarta di Indonesia. Adapun batas-batas wilayah negara Brunei Darussalam di sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan di sebalah timur, selata, dan barat berbatasan dengan negara bagian Serawak (Malaysia).
Bentang alam
Keadaan alam Brunei Darussalam hampir semua berupa dataran rendah. Daerah pantai berupa rawa-rawa debngan hutan bakau, makin ke pedalaman daerahnya berbukit-bukit, dan Brunei Darussalam bagian timur lebih tinggi daripada bagian barat. Puncak tertinggi di Brunei Darussalam adalah Bukut pagon dengan ketinggian kira-kira 1.850 m yang terletak di ujung selatan daerah Temburong. Wilayah Brunei Darussalam bagian barat terdapat sungai utama, yaitu Sungai Belait, Sungai Tutong, dan Sungai Brunei. Sedang di bagian timur terdapat Sungai Temburong. Sungai Belait merupakan sungai terpanjang di Brunei Darussalam.
Iklim
Berdasarkan letak astronomis dan keadaan alamnya, Brunei Darussalam beriklim tropis basah. Dengan iklim tropis basah, Brunei Darussalam memiliki kelembapan dan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Sepanjang sejarahnyna, Brunei Daarussalam tidak pernah mengalami kekeringan. Brunei Darussalam dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim hujan terjadi pada bulan Oktober – April dan musim kemarau terjadi pada bulan April – Oktober. Karena iklim tropis tersebut, sebagian wilayah Brunei Darussalam ditutupi oleh hutan hujan tropis. Hutan-hutan di Brunei Darussalam banyak ditinggali oleh hewan-hewan khas Pulau Kalimantan seperti orang utan, beruang madu, landak, gajah, musang, rusa, lembu, siamang, dan aneka jenis burung. Kekayaan hutan tujan tropis Brunei Darussalam ditunjukkan pula dengan aneka jenis kayu hutan yang memiliki nilai jual tinggi semacam jati, ulin, dan eboni.
Keadaan penduduk
Penduduk Brunei Darussalam sebagian besar terpusat di kota-kota besar
sepanjang Laut Cina Selatan dan mayoritas adalah suku bangsa Melayu. Jumlah
penduduk terbesar kedua adalah orang Cina, sedangkan penduduk asli Brunei
tinggal di pedalaman, yaitu suku Dayak Barat, Iban, Murut, Kelabit, dan Dusun.
Mayoritas penduduk Brunei menganut agama Islam. Agama lain yang dianut
penduduk Brunei Darussalam adalah agama Budha dan Kristen. Ada pula yang
menganut aliran kepercayaan. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Inggris
dan bahasa Melayu.
Perekonomian
Perekonomian negara Brunei Darussalam bertumpu
pada sektor pertambangan, terutama tambang minyak bumi dan gas alam. Ladang
minyak bumi Brunei terdapat di Seria, lepas pantai Kuala Belait, Ampar, dan
Jerudong. Sebagian besar minyak mentah disalurkan melalui pipa ke pabrik
penyulingan di Miri dan Lutong (Serawak). Hasilnya diekspor ke Jepang,
Thailand, Singapura, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
Budaya
Budaya Brunei seakan sama dengan budaya
Melayu, dengan pengaruh kuat dari
Hindu
dan Islam, tetapi kelihatan lebih konservatif dibandingkan Malaysia. Penjualan
dan penggunaan alkohol diharamkan, dengan orang luar dan non-Muslim dibenarkan
membawa dalam 12 bir dan dua botol miras setiap kali mereka masuk negara ini.
Setelah pemberlakuan larangan pada awal 1990-an, semua pub dan kelab malam
dipaksa tutup.
Demografi
Kira-kira dua pertiga jumlah penduduk
Brunei adalah orang Melayu (66,3%). Kelompok etnik minoritas yang paling
penting dan yang menguasai ekonomi negara ialah orang Tionghoa (Han) yang menyusun lebih kurang
11.2% jumlah penduduknya. disusul penduduk asli/dayak (3.4%) dan suku-suku
lainnya (19.1%). Etnis-etnis ini juga menggambarkan bahasa-bahasa yang paling
penting: bahasa Melayu yang merupakan bahasa resmi, serta bahasa Tionghoa.
Bahasa Inggris juga dituturkan secara meluas, dan terdapat sebuah komunitas
ekspatriat yang agak besar dengan sejumlah besar warganegara Britania dan
Australia.
Islam ialah agama resmi Brunei (67%), dan Sultan
Brunei merupakan kepala agama negara itu. Agama-agama lain yang dianut termasuk
agama Buddha (terutamanya oleh orang Tiong
Hoa[13%]), agama Kristen (10%), serta agama-agama orang asli (dalam
komunitas-komunitas yang amat kecil [10%]).
Hubungan dengan Indonesia
Brunei merupakan anggota ASEAN sejak tanggal 7 Januari
1984 dan merupakan anggota ke-enam. Sebelumnya semua hubungan dengan luar
negeri diwakili oleh pemerintah Inggris. Indonesia pernah mengirimkan beberapa
dosen untuk mengajar di Brunei Darussalam.
Tahun
1987, nilai ekspor Indonesia ke Brunei sebesar US$ 2,1 juta, sedangkan nilai
impor Indonesia dari Brunei adalah US$ 1 juta. Ekspor Indonesia berupa
sayur-sayuran dan buah, pakaian (batik dan jeans), dan sejak awal tahun 1988
mengekspor mobil Toyota Kijang Super.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar